TradeIndonesia.co.id – Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan (Wamen KKP) RI, Prof. Dr. Irwan Meilano, S.T., M.Sc., meresmikan Trade Indonesia, jejaring bisnis yang dirancang untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra dan pasar internasional. Peresmian berlangsung di She La Vie Grand Ballroom, Alam Sutera, Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (13/10).

Irwan hadir mewakili Menteri KKP RI Ir. Sakti Wahyu Trenggono, M.M., IPU. Peresmian turut dihadiri pimpinan asosiasi, pelaku usaha, lembaga keuangan, investor, akademisi, serta mitra internasional dari Pakistan, Bangladesh, dan Turki.

Irwan menyampaikan selamat kepada International Creatives Exchange (ICE) atas peluncuran Trade Indonesia, yang ia sebut sebagai jembatan digital antara pelaku usaha Indonesia dan pasar global. Ia mengaku sempat berbincang dengan pendiri Trade Indonesia sebelum acara dimulai.

“Tadi saya sempat berdiskusi dengan Pak Atta tentang mimpi besar beliau untuk mempertemukan para pengusaha, pengusaha yang riil, dengan pasar global. Ini sesuatu yang sangat saya apresiasi,” ujar Irwan.

Alih-alih membuka dengan pantun seperti lazimnya, Irwan memilih menawarkan perspektif yang jarang didengar para pelaku usaha, yakni peluang perdagangan dari sektor kelautan dan perikanan.

Mengusung tagline “Connecting Business, Expanding Opportunities”, Trade Indonesia hadir sebagai platform yang menjembatani kebutuhan pelaku usaha terhadap akses pasar, jaringan bisnis, informasi perdagangan, dan peluang kolaborasi internasional. Peluncuran ini juga diisi diskusi panel bertajuk “Policy Becomes Market Access – Connect to Compete”.

Membalik Arus Perdagangan lewat Pangan Biru

Dalam sambutannya, Irwan mengangkat novel Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer. Novel itu mengisahkan perdagangan yang dahulu bergerak dari Nusantara ke utara, lalu berbalik arah ketika bangsa ini berpaling dari laut.

“Ketika kita berpaling dari laut, arus perdagangan berbalik. Kini perdagangan bergerak dari utara ke selatan, dan kita dibanjiri produk. Sudah saatnya kita membalikkan itu kembali. Karena itu, saya sangat mengapresiasi inisiatif Pak Atta dan timnya,” ujar Irwan.

Ia menilai sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu peluang terbesar dalam perdagangan global. Menurutnya, nilai perdagangan produk perikanan dunia kini mencapai 184 miliar dolar AS, hampir menyamai perdagangan daging, dan lebih dari sepertiganya diperdagangkan lintas negara melalui laut.

Dengan pertumbuhan penduduk dan lahan pertanian yang terus menyusut, termasuk di Pulau Jawa, sumber pangan masa depan disebutnya harus berasal dari laut. KKP menyebutnya sebagai pangan biru.

“Pangan biru sedang menjadi bisnis yang besar saat ini dan akan menjadi sangat besar di masa depan. Pertanyaannya, di mana posisi Indonesia?” kata Irwan.

Indonesia, lanjutnya, merupakan raksasa di bidang ini: peringkat kedua dunia untuk perikanan tangkap setelah Tiongkok dan peringkat ketiga untuk perikanan budidaya. Ekspor perikanan nasional tahun lalu mencapai 6,27 miliar dolar AS, tumbuh 5,2 persen, tertinggi dalam lima tahun terakhir. Namun dari sisi nilai perdagangan, Indonesia masih berada di peringkat ke-10.

“Produksinya banyak, nilainya rendah. Bapak dan Ibu yang paham soal margin pasti melihat ada gap serius di sini, dan gap itu seharusnya menjadi potensi. Itu peluang yang harus kita rebut,” tegasnya.

Ia mencontohkan Norwegia, yang dengan produksi sekitar 4 juta ton mampu membukukan ekspor 17 miliar dolar AS. Artinya, peningkatan nilai tambah produk perikanan Indonesia masih sangat terbuka.

Untuk itu, pemerintah menjalankan kebijakan ekonomi biru yang mencakup perluasan kawasan konservasi, pengembangan perikanan budidaya di pesisir, laut, dan darat, pengawasan pulau-pulau kecil dan pesisir, serta penanganan sampah plastik. Irwan menyebut seluruh agenda itu membuka peluang usaha di sepanjang rantai nilai, mulai dari pakan, benih, rantai dingin, pengolahan, logistik, hingga ekspor.

Ia menjelaskan, perluasan kawasan konservasi bukan sekadar agenda lingkungan. Ketika kawasan konservasi membaik, kualitas hasil laut ikut meningkat, sehingga volume tangkapan tidak harus besar tetapi nilainya di pasar jauh lebih baik.

“Keseluruhan persoalan ini adalah peluang bagi Bapak dan Ibu sekalian, peluang dari berbagai sektor. Kami terbuka, ada Pak Dirjen di sini, untuk berdialog lebih detail dengan Bapak dan Ibu,” kata Irwan.

“Kami di KKP sangat berharap kita semua bisa naik kelas. Nelayan naik kelas, produk ekspor kita naik kelas, baik dari sisi kualitas maupun nilai. Yang penting adalah menemukan mitra yang tepat untuk membangun investasi, dan KKP siap mendukung Bapak dan Ibu sekalian dalam proses tersebut,” ujarnya.

Irwan mengingatkan bahwa peningkatan nilai ekspor menuntut pemenuhan standar mutu. Ia juga menegaskan bahwa Indonesia telah lama menjadi produsen besar dunia, dan tugas bersama ke depan adalah meningkatkan kapasitas produksi sekaligus nilai ekspornya.

“Tidak banyak negara yang dianugerahi kekayaan laut seperti kita. Saya banyak terlibat di bidang sumber daya mineral, dan sekarang saya melihat sumber daya laut kita jauh lebih berharga dari itu semua. Yang kita perlukan adalah kolaborasi,” tuturnya.

Menutup sambutannya, Irwan kembali pada kisah Arus Balik. “Saya sangat berharap suatu saat ada yang menulis ulang Arus Balik, bahwa arus akan kembali. Perdagangan akan kembali dimulai dari selatan dan bergerak ke seluruh dunia,” katanya.

Dari Konektivitas Menuju Kerja Sama Nyata

Founder & Global Head International Creatives Exchange (ICE) yang menaungi Trade Indonesia, Atta Ul Karim, menjelaskan bahwa Trade Indonesia dibangun untuk mempertemukan pelaku usaha domestik dan mitra luar negeri secara lebih langsung, sekaligus mendorong hubungan bisnis yang berkembang menjadi kerja sama konkret.

“Trade Indonesia hadir untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan mitra internasional secara langsung. Kami ingin membuka ruang agar mereka dapat saling mengenal, membangun kepercayaan, dan menjajaki peluang kerja sama tanpa proses yang berbelit-belit. Bagi kami, konektivitas bisnis harus menjadi awal dari peluang yang nyata,” ujar Atta.

Melalui jaringan bisnis dan direktori yang disediakan, platform ini diharapkan membantu pelaku usaha menemukan mitra yang relevan, memperoleh informasi peluang perdagangan, serta menjajaki kerja sama dengan jaringan internasional.

“Pemerintah memiliki peran penting dalam menetapkan kebijakan dan membangun kerangka perdagangan. Trade Indonesia hadir untuk melengkapi upaya tersebut melalui layanan dan konektivitas yang membantu pelaku usaha memanfaatkan peluang yang tersedia,” kata Atta.

“Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem yang mendorong lebih banyak bisnis Indonesia berkembang dan menjangkau pasar internasional,” lanjutnya.

Atta menambahkan, Trade Indonesia dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem ICE yang mendorong kolaborasi lintas sektor. Hubungan antara pelaku usaha, pemerintah, asosiasi bisnis, perbankan, investor, akademisi, dan jaringan internasional diharapkan melahirkan kerja sama yang berkelanjutan.

Kurasi Anggota, Market Intelligence, dan 12 Sektor

Trade Indonesia tidak diposisikan sekadar sebagai media atau direktori perusahaan. Platform ini disiapkan menjadi ekosistem perdagangan yang menghubungkan dunia usaha dengan pemerintah, perbankan, investor, akademisi, asosiasi, dan pasar internasional.

Untuk menjaga kredibilitas, Trade Indonesia menerapkan kurasi anggota, termasuk verifikasi legalitas badan usaha, manajemen, sektor usaha, dan rekam jejak perusahaan. Langkah ini dimaksudkan untuk meminimalkan risiko masuknya pihak yang tidak kredibel dalam ekosistem perdagangan.

Data anggota dan sektor usaha juga akan diolah menjadi market intelligence, yakni informasi pasar yang membantu pelaku usaha menentukan target pasar, calon mitra, dan peluang bisnis.

Ke depan, Trade Indonesia merencanakan agenda berkelanjutan di 12 sektor usaha, mulai dari seminar, talkshow, pameran, pelatihan, business matching, hingga misi dagang ke luar negeri. Pengembangan jaringan dirancang berjenjang di tingkat regional, nasional, dan internasional, dengan tujuan akhir mengubah koneksi menjadi kolaborasi dan transaksi bisnis yang nyata.

Wamendag: Produk Lokal Bisa Menjadi Merek Global

Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, B.A., M.Sc., dalam pesan sambutannya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Trade Indonesia dalam memperkuat hubungan dunia usaha Indonesia dengan pasar global.

Ia memaparkan bahwa di tengah ketidakpastian global, ekspor Indonesia periode Januari–Agustus 2026 mencapai sekitar 193,64 miliar dolar AS, tumbuh 4,74 persen secara tahunan. Indonesia juga telah memberlakukan 25 perjanjian perdagangan yang membuka akses lebih luas ke pasar internasional.

Di luar angka tersebut, Dyah Roro menyoroti keragaman produk Indonesia, mulai dari kopi, kakao, furnitur, dan fesyen hingga kerajinan tangan, makanan olahan, dan barang manufaktur inovatif. Menurutnya, setiap produk membawa kreativitas, identitas, dan aspirasi orang-orang di baliknya. Karena itu, pemerintah berkomitmen mendukung pelaku usaha, khususnya UMKM, memperluas jangkauan globalnya.

Kementerian Perdagangan, lanjutnya, terus memfasilitasi eksportir melalui atase perdagangan, Indonesian Trade Promotion Center (ITPC), serta platform digital InaExport. Dalam kerangka itu, ia menyambut Trade Indonesia sebagai inisiatif pelengkap untuk menghubungkan produsen lokal dengan pembeli dan mitra bisnis internasional.

Ia menegaskan bahwa akses pasar saja tidak cukup. Dunia usaha harus mampu mengubah peluang dari perjanjian perdagangan menjadi pertumbuhan ekspor melalui inovasi, kualitas, konektivitas digital, dan kemitraan internasional yang kuat. Ambisinya bukan hanya membawa produk Indonesia ke pasar global, tetapi membangun kehadiran yang berkelanjutan dan dipercaya konsumen internasional.

“Saya sangat yakin bahwa produk lokal dapat menjadi merek global, dan usaha kecil pun dapat meraih kesuksesan internasional apabila diberikan kesempatan yang tepat. Made in Indonesia tidak seharusnya hanya merepresentasikan dari mana produk kita berasal, tetapi juga kualitas, kreativitas, dan inovasi yang dibawa Indonesia untuk dunia,” ujar Dyah Roro.

Roro Esti mendorong para wirausahawan untuk terus berinovasi dan percaya diri menjajaki peluang internasional. Kepada mitra global, ia mengajak mereka menemukan potensi produk Indonesia dan membangun kemitraan yang saling menguntungkan.

“Karena ketika bisnis Indonesia sukses secara global, Indonesia tumbuh semakin kuat,” tambahnya.

Kepastian Hukum sebagai Fondasi Daya Saing

Dalam diskusi panel, Wakil Menteri Hukum (Wamenkum) RI, Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, S.H., M.Hum., menekankan bahwa kepastian hukum merupakan fondasi penting bagi iklim usaha yang kondusif dan kepercayaan dalam perdagangan internasional. Ia menyoroti tiga aspek: kepastian hukum dalam kegiatan usaha, perlindungan kekayaan intelektual, serta kerangka hukum yang mendukung investasi dan kerja sama bilateral.

“Daya saing global membutuhkan kepastian hukum yang memberikan rasa aman bagi pelaku usaha. Regulasi harus diterapkan secara tidak diskriminatif, sementara setiap transaksi bisnis perlu dijalankan dengan itikad baik, kejujuran, dan kepatuhan terhadap kontrak yang disepakati,” ungkap Prof. Eddy.

Menurutnya, paten, merek, dan desain industri bukan sekadar urusan administratif, melainkan aset yang memperkuat nilai ekonomi produk dan inovasi nasional. Ia juga mendorong sinergi lintas kementerian untuk mendampingi UMKM memahami ketentuan hukum perdagangan dan membangun tata kelola yang baik.

Prof. Eddy menilai pendampingan hukum bagi UMKM menjadi kunci agar pelaku usaha mampu memenuhi ketentuan perdagangan dan menjalankan transaksi internasional secara lebih bertanggung jawab. Dengan landasan hukum yang kuat, kepercayaan mitra luar negeri terhadap pelaku usaha Indonesia diharapkan semakin meningkat.

Menyiapkan UMKM dari Sadar Ekspor hingga Menembus Pasar Global

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perdagangan (BPSDMP) Kementerian Perdagangan RI, Djatmiko Bris Witjaksono, S.E., M.S.I.E., menegaskan bahwa akses pasar saja tidak cukup. Pelaku usaha juga harus memahami regulasi negara tujuan, standar produk, logistik, efisiensi produksi, serta strategi mempertahankan pasar.

“Perjalanan menjadi eksportir tidak berhenti pada keinginan untuk menjual produk ke luar negeri. Pelaku usaha perlu melalui proses dari sadar ekspor, siap ekspor, hingga benar-benar mampu menembus pasar global,” jelas Djatmiko.

Ia memaparkan sejumlah program peningkatan kapasitas Kementerian Perdagangan, termasuk Export Pitching Program selama delapan bulan melalui tahapan pembinaan dan kurasi, untuk mempertemukan calon eksportir dengan calon pembeli potensial.

Setelah berhasil menembus pasar internasional, tantangan berikutnya adalah menjaga keberlanjutan ekspor. Menurut Djatmiko, pelaku usaha perlu memahami kondisi pasar, memetakan pesaing, menjaga kualitas, serta memanfaatkan fasilitas dan perjanjian perdagangan yang sesuai dengan produk dan negara tujuan.

“Menembus pasar global harus diikuti kemampuan mempertahankan pasar tersebut. Kita ingin semakin banyak eksportir baru Indonesia yang tumbuh dan mampu bertahan dalam persaingan,” tambahnya.

Djatmiko juga menekankan pemerataan akses pengetahuan perdagangan bagi pelaku usaha di berbagai daerah melalui pelatihan, lokakarya, serta kolaborasi dengan perguruan tinggi dan pemangku kepentingan lainnya.

Kolaborasi untuk Daya Saing Global

Peresmian Trade Indonesia menandai langkah memperkuat konektivitas bisnis Indonesia dengan pasar dunia. Melalui sinergi pemerintah dan sektor swasta, Trade Indonesia diharapkan memperluas akses perdagangan, mendukung pertumbuhan eksportir baru, serta meningkatkan nilai dan daya saing produk Indonesia, termasuk produk kelautan dan perikanan.

Para pembicara sepakat bahwa keberhasilan ekspansi internasional membutuhkan kesiapan pelaku usaha, kualitas dan nilai tambah produk, kepastian hukum, kepatuhan terhadap regulasi, serta kemampuan membangun kemitraan jangka panjang. Trade Indonesia hadir untuk mengisi ruang tersebut sebagai penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata dunia usaha.

Kegiatan peluncuran Trade Indonesia terselenggara atas dukungan sponsor Al Barkat Carpets dan PT Sucofindo (Persero), serta didukung oleh Bin Cigar, PT Diamond Food Indonesia Tbk, dan Vega Hotel.

Dengan semangat “Connecting Business, Expanding Opportunities”, Trade Indonesia menegaskan komitmennya menghubungkan potensi bisnis nasional dengan peluang global.