Tradeindonesia.co.id – Di tengah dinamika perdagangan global yang kian kompetitif, Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia. Posisi ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cerminan dari rantai pasok yang saling melengkapi antara kedua negara – Indonesia sebagai pemasok energi dan bahan hilirisasi mineral, Tiongkok sebagai pusat manufaktur dan konsumen terbesar di kawasan Asia.
Sepanjang periode 2024–2025, tercatat enam komoditas utama yang mendominasi arus ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu ini, mencakup sektor energi, hilirisasi mineral, hingga agrikultur. Keenamnya menjadi bukti bahwa strategi hilirisasi yang digaungkan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir mulai menunjukkan hasil nyata di pasar internasional.
Besi dan Baja – Bukti Nyata Hilirisasi
Komoditas dengan nilai ekspor tertinggi ke Tiongkok adalah besi dan baja (kode HS 72), yang mencapai US$ 26,54 miliar. Produk ini merupakan hasil hilirisasi feronikel dan stainless steel unggulan Indonesia, sekaligus penanda pergeseran paradigma ekspor nasional – dari sekadar menjual bahan mentah menjadi produk bernilai tambah tinggi. Capaian ini membuktikan bahwa program hilirisasi nikel Indonesia berhasil menembus pusat rantai pasok industri manufaktur Tiongkok, salah satu pasar baja terbesar dunia.
Batubara – Tulang Punggung Energi Industri
Di posisi kedua, batubara (kode HS 2701) menyumbang nilai ekspor sebesar US$ 24,48 miliar. Komoditas ini tetap menjadi sumber energi vital bagi pertumbuhan industri Tiongkok, terutama untuk kebutuhan pembangkit listrik dan sektor manufaktur berskala besar. Meski dunia tengah bergerak menuju transisi energi, permintaan batubara dari ini masih menunjukkan stabilitas yang signifikan bagi neraca ekspor Indonesia.
Minyak Sawit (CPO) – Andalan Agrikultur
Minyak sawit atau Crude Palm Oil (kode HS 15) tetap menjadi bahan baku esensial yang memenuhi tingginya permintaan industri pangan dan manufaktur di Tiongkok. Sebagai produsen CPO terbesar dunia, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati negara tersebut, baik untuk konsumsi pangan maupun bahan baku industri oleokimia.
Olahan Nikel – Kunci Rantai Baterai Kendaraan Listrik Global
Olahan nikel (kode HS 75) mencatatkan nilai ekspor sebesar US$ 6,80 miliar. Komoditas ini menjadi komponen vital dalam pasokan rantai industri baterai kendaraan listrik (EV) global yang tengah tumbuh pesat di Tiongkok. Dengan cadangan nikel terbesar dunia, Indonesia berada pada posisi strategis untuk terus memperkuat perannya dalam ekosistem baterai EV internasional – sejalan dengan visi hilirisasi mineral kritis yang menjadi fokus utama pemerintah pada 2025.
Lignit – Pelengkap Kebutuhan Bahan Bakar Padat
Ekspor lignit (kode HS 2702) tercatat sebesar US$ 5,95 miliar, menjadikannya pelengkap kebutuhan bahan bakar padat bagi industri Tiongkok. [4] Sebagai salah satu jenis batubara kualitas rendah dengan kadar air tinggi, lignit tetap memiliki pasar tersendiri, khususnya untuk kebutuhan industri yang tidak memerlukan kalori pembakaran setinggi batubara jenis lain.
Gas Alam – Diversifikasi Ekspor Energi
Terakhir, gas alam (kode HS 2711) menyumbang US$ 2,45 miliar terhadap total ekspor Indonesia ke Tiongkok. Komoditas ini merepresentasikan upaya diversifikasi ekspor energi Indonesia ke kawasan Asia Timur, sekaligus menegaskan peran Indonesia sebagai salah satu pemasok energi yang diperhitungkan di kawasan.
Dari Bahan Mentah Menuju Nilai Tambah
Jika dicermati, keenam komoditas ini menggambarkan dua wajah ekspor Indonesia ke Tiongkok: energi konvensional yang masih dominan (batubara, lignit, gas alam), serta produk hilirisasi bernilai tambah tinggi yang mulai unjuk gigi (besi-baja dan olahan nikel). Khususnya untuk besi dan baja, capaian US$ 26,54 miliar menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan hilirisasi mineral Indonesia berada di jalur yang tepat.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana Indonesia dapat terus menggeser komposisi ekspor dari komoditas energi mentah menuju produk bernilai tambah, sembari menjaga stabilitas pasokan energi yang tetap dibutuhkan pasar Tiongkok. Optimalisasi skema kerja sama seperti RCEP dan ACFTA turut menjadi kunci untuk memperlancar arus perdagangan dan menjaga daya saing produk Indonesia di pasar Tiongkok yang kompetitif.